Digital camera plus Lens review web:
- www.dpreview.com
- www.digitalcamerareview.com
- www.steves-digicams.com
- www.canonlensreview.com
- www.lens-reviews.com
- www.slr-lens.com
- www.kamera-digital.com/review/
- http://www.prophotohome.com
Tips & Tutorial photography wb:
- http://www.betterphoto.com
- www.great-landscape-photography.com/ photography-articles.html
- www.starephotography.com/articles/index.php
- www.starephotography.com/articles/index.php
- www.wedpix.com/articles/
- www.popphoto.com/
Blog ini bersifat suka berbagi dan ingin sharing bersama..jadi kritik dan saran anda bisa lebih mendekatkan kita bersama...
"welcome"
Thank's for visiting my Blog..
Kamis, 31 Maret 2011
Hacking The Human Side
Keahlian Mitnick sebagai hacker tidak terbatas pada kemapuan teknis belaka. Ia merupakan pada kemampuan teknis belaka. Ia merupakan seorang yang memahami betul bahwa keamanan sistem komputer terdiri dari aspek kebijakan organisasi, sumber daya manusia, proses yang terlibat serta teknologi yang digunakan. Seandainya ia seoarang pahlawan super kemapuannya utama Mitnick adalah seoarang yang mempraktekan ilmu social engginering alias rekayasa sosial. Ini adalah sebuah teknik mendapatkan informasi penting, semisal password, dengan memanfaatkan kelemahan manusiawi.
Kemampuan Mitnick paling baik diilustrasikan dalam cerita berikut, cerita yang dikisahkan Mitnick sendiri pada sebuah forum online Slasdot.org
"Pada satu kesempatan, saya ditantang oleh seorang teman untuk mendapatkan nomor (telepon) Sprint Foncard-nya. Ia mengatakan akan membelikan makan malam jika saya bisa mendapatkan nomor itu. Saya tidak akan menolak makan enak, jadi saya berusahan dengan menghubungi Customer Service dan perpura-pura sebagai seorang dari bagian teknologi informasi. Saya tanyakan pada petugas yang menjawab apakah ia mengalami kesulitan pada sitem yang digunakan. Ia bilang tidak, saya tanyakan sistem yang digunakan untuk mengakses data pelanggan, saya berpura-pura ingin memverifikasi. Ia menyebutkan nama sistemnya."
"Setelah itu saya kembali menelepon Costumer Service dan dihubungkan dengan petugas yang berbeda. Saya bilang bahwa komputer saya rusak dan saya ingin melihat data seorang pelanggan. Ia mengatakan data itu sudah berjibun pertanyaan. Siapa nama anda? Anda kerja buat siapa? Alamat anda dimana? Yah, seperti itulah. Karena saya kurang riset, saya mengarang nama dan tempat saja. Gagal. Ia bilang akan melaporkan telepon telepon ini pada keamanan."
"Karena saya mencatat namanya, saya membawa sorang teman dan memberitahukannya tentang situasi yang terjadi. Saya meminta teman itu untuk menyamar sebagai 'penyelidik keamaman' untuk mencatat laporan dari petugas Customer Service dan berbicara dengan petugas tadi. Sebagai 'penyelidik' ia mengatakan menerima laporan adanya orang berusaha mendapatkan informasi pribadinya pelanggan. Setelah tanya jawab soal telepon tadi, 'penyelidik menyakan apa informasi yang diminta penelepon tadi. Petugas itu bilang nomor Foncard. 'penyelidik' bertanya, memang berapa nomornya? Dan petugas itu memberikan nomornya. Oops. Kasus selesai"
Kemampuan Mitnick paling baik diilustrasikan dalam cerita berikut, cerita yang dikisahkan Mitnick sendiri pada sebuah forum online Slasdot.org
"Pada satu kesempatan, saya ditantang oleh seorang teman untuk mendapatkan nomor (telepon) Sprint Foncard-nya. Ia mengatakan akan membelikan makan malam jika saya bisa mendapatkan nomor itu. Saya tidak akan menolak makan enak, jadi saya berusahan dengan menghubungi Customer Service dan perpura-pura sebagai seorang dari bagian teknologi informasi. Saya tanyakan pada petugas yang menjawab apakah ia mengalami kesulitan pada sitem yang digunakan. Ia bilang tidak, saya tanyakan sistem yang digunakan untuk mengakses data pelanggan, saya berpura-pura ingin memverifikasi. Ia menyebutkan nama sistemnya."
"Setelah itu saya kembali menelepon Costumer Service dan dihubungkan dengan petugas yang berbeda. Saya bilang bahwa komputer saya rusak dan saya ingin melihat data seorang pelanggan. Ia mengatakan data itu sudah berjibun pertanyaan. Siapa nama anda? Anda kerja buat siapa? Alamat anda dimana? Yah, seperti itulah. Karena saya kurang riset, saya mengarang nama dan tempat saja. Gagal. Ia bilang akan melaporkan telepon telepon ini pada keamanan."
"Karena saya mencatat namanya, saya membawa sorang teman dan memberitahukannya tentang situasi yang terjadi. Saya meminta teman itu untuk menyamar sebagai 'penyelidik keamaman' untuk mencatat laporan dari petugas Customer Service dan berbicara dengan petugas tadi. Sebagai 'penyelidik' ia mengatakan menerima laporan adanya orang berusaha mendapatkan informasi pribadinya pelanggan. Setelah tanya jawab soal telepon tadi, 'penyelidik menyakan apa informasi yang diminta penelepon tadi. Petugas itu bilang nomor Foncard. 'penyelidik' bertanya, memang berapa nomornya? Dan petugas itu memberikan nomornya. Oops. Kasus selesai"
Kecanduan Komputer
Mitnick mudah mempelajari komputer dengan nongkrong di toko radioshack atau diperpustakaan umum, keluarganya tidak cukup berduit untuk memiliki komputer sendiri. Kesukaannya pada komputer berkembang hingga ia dewasa.
Pada periode 1990-an, Mitnick mudah sekali keluar masuk sistem komputer. Namun pada akhir 1980-an ia sebenarnya ingin meninggalkan hobynya tersebut dan mulai mencari pekerjaan yang sah. Sayangnya, sebelum ia bisa melakukan itu, pada 1987 ia tertangkap karena menyusup perusahaan Santa Cruz Organization, sebuah perusahaan piranti lunak yang terutama bergerak dibidang sistem operasi Unix. Ketika itu pengacara mitnik berhasil menurunkan tuduhan kejahatan menjadi tindakan yang kurang baik, Mitnick pun hanya di ganjar 3 tahun masa percobaan.
Tidak sampai setahun Mitnick kembali tersandung kasus hukum. Gara-garanya seorang teman yang komputernya ia gunakan untuk membobol komputer lain melaporkan Mitnick yang berwajib kali itu yang dibobol Mitnick adalah milik Digital Equipment Corporation. Setiap kali membobol komputer yang dilakukan mitnik adalah mengambil code penyusun dari piranti lunak. Kode itu kemudian dia pelajari dengan sungguh-sungguh, terkadang menemukan beberapa kelemahan didalamnya. Dalam sebuah kesempatan Mitnick hanya mengaku mengambil kode penyusun dari piranti lunak yang ia sukai atau yang menarik baginya.
Dalam kasus DEC Mitnick mendapatkan masa tahanan yang lebih berat. Ketika itu pengacaranya menyebut Mitnick memiliki, 'kecanduan pada komputer yang tidak bisa dihentikan'. Ia diganjar 1 tahun penjara.
Di penjara Mitnick mendapatkan pengalaman yang buruk. Pada saat itu legenda Kevin Mitnick atau yang lebih dikenal juga dengan nama samaran 'the condor', sudah semakin membesar. Reputasinya sebagai seorang
penjahat komputer juga semakin membumbung melebihi kenyataan. Sipir di Lompoc, penjara tempat Mitnick berada, mengira Mitnick bisa menyusup kedalam komputer hanya dengan berbekal suara dan telepon. Walhasil
Mitnick bukan hanya tidak boleh menggunakan telepon, ia juga menghabiskan waktu berbulan bulan dalam ruang isolasi. Tak heran jika kemudian ia dikabarkan mengalami sedikit gangguan jiwa saat menjalani hukuman di Lompoc.
Tahun 1989 Mitnick dilepaskan dari penjara. Ia berusaha mencari pekerjaan yang resmi, namun statusnya sebagai mantan narapidana membuat Mitnick sulit mempertahankan pekerjaan. Akhirnya ia bekerja sebagai
pendulang informasi untuk kantor penyelidik kantor swasta. Tentunya ini menyeret Mitnick kembali kepada dalam dunia yang abu-abu dan hitam. Pada awal 1990-an, Mitnickpun dicari lagi oleh FBI. Kali ini takut akan masuk ruang isolasi selama bertahun-tahun, Mitnick memutuskan untuk kabur.
Pada periode 1990-an, Mitnick mudah sekali keluar masuk sistem komputer. Namun pada akhir 1980-an ia sebenarnya ingin meninggalkan hobynya tersebut dan mulai mencari pekerjaan yang sah. Sayangnya, sebelum ia bisa melakukan itu, pada 1987 ia tertangkap karena menyusup perusahaan Santa Cruz Organization, sebuah perusahaan piranti lunak yang terutama bergerak dibidang sistem operasi Unix. Ketika itu pengacara mitnik berhasil menurunkan tuduhan kejahatan menjadi tindakan yang kurang baik, Mitnick pun hanya di ganjar 3 tahun masa percobaan.
Tidak sampai setahun Mitnick kembali tersandung kasus hukum. Gara-garanya seorang teman yang komputernya ia gunakan untuk membobol komputer lain melaporkan Mitnick yang berwajib kali itu yang dibobol Mitnick adalah milik Digital Equipment Corporation. Setiap kali membobol komputer yang dilakukan mitnik adalah mengambil code penyusun dari piranti lunak. Kode itu kemudian dia pelajari dengan sungguh-sungguh, terkadang menemukan beberapa kelemahan didalamnya. Dalam sebuah kesempatan Mitnick hanya mengaku mengambil kode penyusun dari piranti lunak yang ia sukai atau yang menarik baginya.
Dalam kasus DEC Mitnick mendapatkan masa tahanan yang lebih berat. Ketika itu pengacaranya menyebut Mitnick memiliki, 'kecanduan pada komputer yang tidak bisa dihentikan'. Ia diganjar 1 tahun penjara.
Di penjara Mitnick mendapatkan pengalaman yang buruk. Pada saat itu legenda Kevin Mitnick atau yang lebih dikenal juga dengan nama samaran 'the condor', sudah semakin membesar. Reputasinya sebagai seorang
penjahat komputer juga semakin membumbung melebihi kenyataan. Sipir di Lompoc, penjara tempat Mitnick berada, mengira Mitnick bisa menyusup kedalam komputer hanya dengan berbekal suara dan telepon. Walhasil
Mitnick bukan hanya tidak boleh menggunakan telepon, ia juga menghabiskan waktu berbulan bulan dalam ruang isolasi. Tak heran jika kemudian ia dikabarkan mengalami sedikit gangguan jiwa saat menjalani hukuman di Lompoc.
Tahun 1989 Mitnick dilepaskan dari penjara. Ia berusaha mencari pekerjaan yang resmi, namun statusnya sebagai mantan narapidana membuat Mitnick sulit mempertahankan pekerjaan. Akhirnya ia bekerja sebagai
pendulang informasi untuk kantor penyelidik kantor swasta. Tentunya ini menyeret Mitnick kembali kepada dalam dunia yang abu-abu dan hitam. Pada awal 1990-an, Mitnickpun dicari lagi oleh FBI. Kali ini takut akan masuk ruang isolasi selama bertahun-tahun, Mitnick memutuskan untuk kabur.
Jangan Pernah Kehilangan Harapan
Deretan pertanyaan bisa terus bertambah dan rasa lelah itu akan semakin menjadi jika yang terbentang di depan mata hanyalah sisi gelap bangsa. Di saat itulah keputusasaan akan muncul, yang berarti berakhirlah sudah makna kita sebagai bangsa.
Mungkin ada baiknya kita mulai menengok ke sekeliling, mencoba mencari sinar pelita seredup apa pun. Banyak orang tak menyadari kehadiran pelita-pelita kecil itu karena yang didambakan adalah sinar terang gemerlap yang tak kunjung menyala.
DI sekeliling kita sebetulnya masih banyak individu-individu yang diam-diam berbuat sesuatu, menelurkan karyanya tanpa harapan pujian atau imbalan. Boleh jadi nama mereka hanya dikenal di komunitas kecilnya. Tak ada lomba atau kompetisi yang mempertarungkan kemampuan mereka.
Kita tengok Trisno Suwito, pria berusia 60 tahun, warga Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, yang begitu telaten mengumpulkan berbagai umbi langka untuk dikembangbiakkan. Umbi-umbian-yang pada tahun 1960-an menjadi penolong rakyat saat musibah kekeringan dan kelaparan datang-kini memang mulai dilupakan orang, bersamaan dengan diperkenalkannya penanaman padi.
“Padahal, bapak saya bilang, ‘Kalau kamu tetap menanam umbi, ketika ada kelaparan lagi, kamu tidak akan mati’,” kata Trisno, anak Noyo Semito, petani miskin di dusun itu. Menjelang akhir hayatnya tahun 2000, Noyo memintanya untuk menyelamatkan umbi-umbian langka dan menanamnya kembali di ladang.
Untuk mendapatkan umbi- kini Trisno dapat mengumpulkan sekitar 150 jenis umbi-setiap hari ia harus meniti bukit cadas tajam di sekitar desanya. Kadang kala ia temukan bibit di sela batu cadas, tinggal sebatang dan hampir mati.
Koleksi Trisno saat ini antara lain adalah gembili jempina (Dioscorea sp), gembili wulung/ungu (Dioscorea sp), umbi senggani ulo yang bentuknya mirip ular melingkar, umbi legi, compleng (Amorphopallus sp), coklok, katak (Dioscorea pentafolia), dan beberapa jenis ganyong (Kanna edulif).
Tentang koleksinya itu, Trisno yang tidak tamat pendidikan sekolah dasar (SD) hafal betul cirinya masing-masing, mulai dari bentuk daun, batang, duri, sampai bagaimana cara mengolahnya-terutama untuk umbi beracun-agar aman dikonsumsi. Bagi Trisno, mengumpulkan umbi-umbian seperti mengumpulkan harta karun.
“Untuk generasi sekarang dan yang akan datang,” kata Trisno yang sangat senang jika ada mahasiswa, kandidat doktor, atau peneliti datang bertanya atau bahkan meneliti koleksinya. “Saya merasa usaha keras saya dihargai,” ungkapnya.
SERUPA dengan Trisno, Hadi Jatmiko juga bisa dibilang pelestari alam kecil-kecilan. Kakek berusia 72 tahun ini gemar menanam bibit jati di tanah kosong yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Warga Dusun Jetis Kaliurang, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, ini sampai rela menjual kolam lele dan hasilnya habis dibelikan bibit jati. Ia pun rela “didiamkan” sang istri, yang menganggapnya sudah gila.
Tak kurang dari 4.000 bibit jati yang dibeli di Ngawi ditanam di tanah kosong tak produktif seluas 4.000 meter persegi. Padahal, untuk memperoleh tanah itu, ia harus membeli dengan pinjaman bank sebesar Rp 6 juta. Jaminannya hanya surat keterangan pensiunan pegawai negeri golongan II B.
Filosofi Hadi sederhana. Menanam jati sama saja belajar tentang kesejatian hidup karena hasilnya tak akan bisa dinikmati si penanam melainkan keturunannya. “Kalau tanah dibiarkan penuh semak belukar, sampai 20 tahun pun tetap jadi semak. Tetapi, kalau ditanami jati, 20 tahun lagi akan bernilai tinggi,” katanya.
Apa yang dirintis Hadi ternyata menular pada tetangganya. Mereka pun kini rajin menanam lahan kosong tak produktif dengan pokok jati sehingga di dusunnya terbentuk Kelompok Tani Jati Lestari. Dalam waktu empat tahun, kelompok ini beranggotakan 20 orang dan telah menanam 49.000 batang jati. Hadi pun kini makin kerap diminta menanam jadi di wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan sampai Sumatera Utara. Total tanah yang ditanami jati olehnya sampai 50 hektar.
SEMENTARA itu, di Karimunjawa, Jawa Tengah, nama Ismarjoko Budi Santoso (38) dikenal sebagai orang bersungguh-sungguh yang melestarikan penyu. Untuk urusan penyu yang sangat dilindungi ini sekurangnya telah ada tiga peraturan hukum yang memayunginya. Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam mengancam penangkap penyu dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. UU ini lantas diterjemahkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 7/1999 tentang Penyu Hijau sebagai Satwa Dilindungi dan Surat Keputusan Menteri Kehutan No 882 /Kpts/II/92 yang mengatur perlindungan penyu pipih dan penyu sisik.
Namun, aturan hukum hanyalah urusan hitam di atas putih. Yang terjadi di lapangan sendiri adalah persoalan hukum pasar. Daging dan telur penyu dicari orang untuk dikonsumsi, begitu juga karapas alias batok yang biasa dipakai sebagai suvenir. Hati Ismarjoko-yang sehari- hari berprofesi sebagai nelayan sekaligus pengumpul ikan- pun belakangan tergerak. Di satu sisi, ia ingin menyelamatkan penyu dari kepunahan, tetapi di sisi lain ia berniat membantu sesama nelayan. Dengan modal pas-pasan, ia pun membangun bak pembesaran tukik (anak penyu) berukuran 1,5 meter x 1 meter yang diisi air laut.
Supaya para nelayan bersedia melepas telur penyu yang dimiliki, Ismarjoko membelinya dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Meski tidak mudah menetaskannya di alam bebas- “Pernah tahun 2000 saya membeli 260 telur, sebanyak 124 butir di antaranya gagal menetas,” ujarnya pasrah-Ismarjoko tak patah semangat. Padahal, ia juga tahu, daya hidup tukik sangat rendah. Dari 1.000 tukik, paling hanya satu atau dua ekor yang bisa terus menjadi dewasa, suatu perjalanan yang membutuhkan waktu sampai 30 tahunan.
Tukik yang berusia 6-12 bulan itu kemudian harus dilepaskan ke laut. Sejak tahun 2000, tak kurang dari 700 tukik dikembalikan Ismarjoko ke habitatnya kendati ia menargetkan bisa meningkat sampai 300-500 anak penyu setiap tahunnya. “Pelepasan penyu seharusnya bisa menarik wisatawan karena artinya kita ikut terlibat dalam pelestarian penyu,” ujarnya menambahkan.
BETAPA besar pengabdian pelita-pelita kecil pada umat manusia bisa dilihat dari kesederhanaan dan sikap tanpa pamrih mereka. Tangan menghadap ke bawah, bukan menengadah ke atas. Artinya, menyumbangkan kemampuan diri lebih penting daripada meminta-minta bantuan orang.
Hermawati (48), misalnya, selama sepuluh tahun terakhir mendirikan sekolah, SD Tunas Nelayan, sekaligus menjadi guru bagi murid-muridnya tanpa bayaran sepeser pun. Di sebuah pulau kecil berukuran empat kilometer persegi, Pulau Burung-terletak 10 menit perjalanan dengan speedboat dari Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan- ia membangun “kandang sekolah” berukuran 3 meter x 6 meter. Dengan dinding papan, atap rumbia berlubang-lubang, dan lantai tanah yang setiap saat siap ambruk, sekolah yang dipimpin Hermawati ini lebih mirip kandang ternak daripada kelas belajar.
Ruangan itu disekat menjadi tiga kelas kecil yang menampung murid dari kelas 1 hingga kelas 5 sebanyak 35 orang. Tak heran jika jam belajar pun digilir masing-masing satu jam. Maklum, gurunya hanya satu, Hermawati sendiri.
“Saya sebenarnya bukan guru, saya hanya sekolah sampai sekolah rakyat. Setelah membangun sekolah ini, saya memang sempat ikut Kejar Paket B,” ujar Hermawati. Adapun yang mendorongnya membangun sekolah tak lain karena kasihan melihat nasib anak- anak nelayan yang tidak bisa membaca dan menulis. “Zaman sudah maju, tetapi kami semakin terbelakang,” katanya.
Sementara tak mungkin untuk menarik uang SPP apalagi uang “gedung”, Hermawati pun kelabakan membantu belajar anak-anaknya dalam soal buku pelajaran. Suatu kali ia pernah mengajukan proposal ke berbagai kantor pemerintah agar mereka dibantu dengan buku- buku pelajaran, tetapi tak sedikit pun tanggapan datang. Yang lebih memusingkan, murid-muridnya yang hendak melanjutkan ke kelas 6 SD ternyata mengalami kesulitan untuk pindah sekolah karena kualitasnya dianggap tak memadai. Kenyataan ini sungguh menyakitkan anak-anak Pulau Burung. Mereka hanya bisa melanjutkan pelajaran di sekolah madrasah.
MIRIP dengan kisah Hermawati, apa yang dilakukan Ibe Karyanto (41) di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur, secara total hanya diperuntukkan bagi anak-anak jalanan. Begitu totalnya hingga nyaris tak ada harta benda pribadi yang layak untuk dirinya sendiri. Ibe tinggal bersama sekitar 80 anak jalanan selama 24 jam. Ruang pribadinya hanya kamar di barak berdinding kayu bekas. Ranjangnya dilapisi selembar kasur tipis. Harta “termewah” hanya kendaraan jip Toyota Hardtop butut keluaran tahun 1974.
Bersama dengan Sanggar Akar, ia menggerakkan dukungan banyak orang-termasuk pemusik, pematung, pembuat film, guru, dan mahasiswa-untuk kelangsungan hidup anak-anak termarjinalkan ini. Mereka membantu Ibe untuk mengajar musik, teater, menyablon, membuat patung, dan lain-lain. Sehari-hari Ibe mendampingi anak-anak itu hingga pukul 03.00 tanpa hari libur.
Sejak awal Ibe memang menggunakan pendekatan kesenian untuk mendidik anak- anak jalanan itu. Hasilnya lumayan, generasi pertama mereka kini sudah bisa menjadi andalan aktivitas sanggar. Bahkan, ada tujuh anak didik Ibe yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan mengambil bidang seni rupa, musik, desain, serta bahasa Inggris.
Dari orang-orang semacam Ibe, Hermawati, Hadi, Trisno, atau Ismarjoko sebenarnya Indonesia bisa berharap masih ada masa depan yang cerah di depan kita. Jangan pernah kita kehilangan harapan itu. (j10/aik/bsw/wis/amr/fit)
Sumber: Kompas – Kamis, 30 Desember 2004
Cinta Istimewa Untuk Orang Yang Luar Biasa
Tentu kita kenal dengan Oprah Winfrey. Jika dia menyumbang ratusan dan ribuan dolar, tentu kita kagum namun tidaklah terkejut. Mungkin juga rajanya microsoft, Bill Gates yang mendermakan jutaan dolar, kita juga barangkali menganggap hal hebat yang biasa saja. Namun saat kita diperlihatkan kedermawanan dari orang yang dalam kesusahan, itu adalah hal yang tentunya mengetuk hati kita. Berikut adalah cerita tentang Bai Fang Li. File ini telah ada di komputer saya sejak lama. Tidak ada salahnya saya bagikan kepada sahabat..
————–
BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.
Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.
Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.
Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.
Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.
Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.
Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.
Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.
Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.
Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.
Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.
Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.
Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.
Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.
Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.
“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.
Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..
Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.
Related Posts
- Berfikir Di Luar KotakApa yang di maksud dengan berfikir di luar kotak? Mungkin kita perlu mendefinisikan dulu apa yang di...
- Pelajaran Satu Juta DolarCerita motivasi kali ini disadur dari buku A Million Dollar Lesson yang dikarang oleh Petey Parker.�...
- Keadilan Tuhan bagi HidupkuAku bersyukur buat Tuhanku… bahwa ketika aku dilahirkan… Tuhanku berkehendak untuk ketika itu…...
- Aku Ingin Mama Kembali
- Hasrat, Komitmen dan Keberanian
Pencarian
,,cinta istimewa untuk orang yang luar biasa,memberi dalam kekurangan,cinta istimewa untuk seseorang luar biasa,kata-kata istimewa cinta,orang luar biasa,cerita luar biasa,cerita istimewa untuk orang yg luar biasa,cerita istimewa,cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa cerita motivasi,kumpulan cerita cinta sendu,kata mutiara tak ada yang istimewa malam ini,kata mutiara yg luar biasa,makna sebuah cinta,kata yg istimewa,cinta untuk orang yang luar biasa,luar biasa,kata-kata semangat pada teman istimewa,kata2 mutiara istimewa,kisah anak luar biasa,www kata kata mutiara nasehat menolong yatimpiatu,memberikan orang yang ku cinta untuk orang lain,tanggapan terhadap gambar anak miskin,Sinopsis novel cinta luar biasa,Seorang kakek yg luar biasa,SAYA HANYA OEANG BIASA UNTUK MENJADI SESEORANG YG LUAR BIASA,puisi doa dan harapan buat anak yatim piatu,puisi cinta seseorang yg berarti,pantun istimewa untuk seseorang yang kita cintai,ORG YG TIDAK,orang yang memberi dalam kekurangannya untuk pendidikanApa Kamu Bisa??
Tak selang beberapa lama, Guru Bahasa Indonesia dengan senyum kecut nya, menunda pencatatan diri saya di daftar calon anggota majalah sekolah itu. Hal yang paling mendasar dan mungkin bisa diterima, adalah syaratnya yang sangat eksklusif, ‘Calon Peserta Adalah Siswa Rangking 1 dan 2, atau Memiliki Danem Tinggi’, sontak saya terkejut sembari menahan malu, karena kenyataanya, saya sama sekali tidak masuk kategori.
Guru itu lantas mencari kandidat baru, dengan alasan, saya adalah cadangan jika tidak ada lagi calon dikelas itu. Tindakan itu adalah cambuk buat saya, sehina itukah saya?se elegan itukah majalah sekolah? Karena tidak satupun mau, keputusan pun jatuh pada saya dan seorang lagi siswi cantik dengan nilai tinggi. “Okky, apa kamu bisa?kamu goblok gitu,” oloknya didepan 50 siswa. Dengan santai saya jawab, “Orang tua saya tidak pernah meragukan saya saat saya belajar jalan, jadi kenapa saya harus ragu?” jawab saya tegas.
‘Pertempuran’ pun dimulai, satu tahun pertama, saat itu masih anggota junior, saya berhasil mengumpulkan artikel saya jauh sebelum tanggal deadline, satu tahun kedua, saya berhasil dipilih mnenjadi ketua baru, atau bahasa keren-nya, Pimpinan Redaksi. Sejumlah perubahan saya lakukan, mulai penggunaan bahasa baku, rekrutmen yang tidak lagi mementingkan nilai, pengakuan kemampuan personal, hingga look majalah yang baru. Saya berhasil melampaui siswi cantik dengan nilai terbaik itu.
Prestasi Jurnalis SMA Terbaik, berhasil saya raih, dan kepercayaan teman-teman, guru, kepala sekolah, hingga guru pematah semangat tersebut, beralih pada saya, siswa bodoh dan bahan olokan.
Lepas dari pendidikan Putih Abu-abu tersebut, selang beberapa tahun tentunya, saya putuskan untuk meneruskan hobi saya sebagai Jurnalis dengan melamar sebagai wartawan di media lokal. Dengan semangat olokan dulu, saya berhasil menjadi Koordinator Liputan, Redaktur, hingga Humas dalam 2 tahun masa kerja saya.
Bukan Prestasinya yang menjadi inti tulisan ini, tapi saya berhasil menaklukan momok ejekan yang selalu menjadi ganjalan selama ini. Guru pematah semangat itu sekarang berbalik malu saat melihat saya di reuni sekolah. Tapi tanpa saya sadari, Guru itu sudah berubah menjadi Guru Pembakar Semangat saya. Saya peluk dia, dan saya katakan, “Terima kasih atas ejekan ibu dulu.”
Hari ini saya megajak anda untuk melakukan apa yang ingin anda lakukan. Sekecil apapun itu, serendah apapun diri anda, jika kemauan itu dapat merubah hidup anda menjadi lebih baik, Lakukanlah!
Jadikan ejekan, hinaan, dan hambatan sebagai batu lompatan. Niat anda lebih berharga dari sebuah angka akademis, prestasi nilai, taraf hidup, kekurangan fisik, minoritas suku, dan apapun yang membuat anda berbeda dengan lingkungan anda.
Hidup kita mahal, karena pembuatnya adalah maestro terhebat, Ilmuan dari segala ilmuan, dan tidak ada yang boleh merendahkan anda didunia ini, karena Tuhan menciptakan anda dengan Sempurna.
Salam Damai,
Stevanus Okky
Senin, 28 Maret 2011
hoooaaamm
ni blog baru milik saya,,,
sebenarnya sudah gak terpikir buat bikin blog baru lagi..
soalnya blog yang lama saja udah gak pernah dibuka.
nah klo ditanya alasan kenapa akhirnya mau bikin blog baru lagi,,ini karena teman sekaligus kakak tingkat saya di kampus minta saya buat bantuin dia ngepost semua hal2 yang ada hubungannya seputar dunia IT dan buat agan-agan yg doyan DL alias download sesuatu yang baru baik itu game, lagu, vidio, dan lain2 yg mungkin sering di DL..
nahh..disini tugas saya adalah bantuin teman saya itu ngepost sesuatu yg ada hubungannya dengan semua itu..
itulah alasannya kenapa akhirnya saya mau buat blog saya yg baru..skalian juga udah lama saya gak ikut2 ngelancong kedunia maya lewat blogger...hehehehe
so..let's join with us..and have fun with your choice..^_^a
Langganan:
Postingan (Atom)